TANGERANG, MEDIA OTONOMI INDONESIA – Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMDSDA) belum bisa memberikan pelayanan yang baik kepada orang penderita kaum difabel khususnya kepada penderita tuna netra terkait pembangunan pedistrian jalan menuju kawasan wisata Pusat Pemerintahan (Puspem) Tigaraksa.
Hal itu bisa dilihat pada pembangunan pedistrian jalan menuju kawasan wisata diruang lingkup Puspem Tigaraksa tidak ada pemindahan tiang listrik, telepon dan pohon, sehingga menyulitkan penderita kaum difabel untuk menggunakannya.

Yopi mengatakan salah satu penderita tuna netra ketika memanfaatkan pedistrian yang telah selesai dibangun pihak pelaksana CV. Starmon, (24/12/2020), menabarak tiang listrik. Padahal penderita tuna netra sudah mengikuti tanda jalur kuning (yellow line)
Ketika di konfirmasi wartawan Media Otonomi Indonesia dan beberapa LSM kepada Kabid perencanaan, terkait perencanaan pembangunan pedistriaan jalan menuju kawasan wisata di Tigaraksa, Iyawan mengatakan, saat kegiatan itu dilaksanakan saya belum disini bertugas.
“Engga mengelak pak saya posisi di situ sudah dilaksanakan itu, malah sudah di pengecatan. Itu sudah dikerjakaan. Saya akan konfirmasi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPKo) yang lama,” tuturnya diruangannya,Senin (28/12/2020)
Iyawan menambahkan pihak DBMDSDA akan koordinasi kepada pihak dinas perhubungan dan dinas pertamanan terkait belum dicabutnya tiang listrik dan pohon pada jalur kuning pada pedistrian.
“Sistem itu kita lagi kordinasi dengan dinas perhubungan dan dinas pertamanan untuk segera di pindah. Pak kadis juga udah berulangkali minta itu segera diperbaiki,” imbuhnya.
Pantauan Media Otonomi Indonesia dilapangan, pihak pelaksana cukup perhatian membuat tanda Yellow line. Diwarnain sedemikian rupa, sehingga merupakan sebuah jalur kuning yang dibuat dengan paving block bertekstur tertentu yang dibuat untuk memudahkan kaum di fabel melintasi jalur pedistrian, khususnya penderita tuna netra, namun tidak bisa dimamfaatkan. Tiang listrik, telepon dan pohon belum dipindah.

Ketua LSM Garuda, Fajri juga menanyakan pembangunan pedistrian jalan menuju kawasan wisata Puspem, sebelum merencanakan itu, apa tidak ada survei lokasi, sehingga pekerjaan terpasang melalui dana negara ini kan sia sia,sampai berapa lama hal ini terjadi?
Iyawan menjawab,” bahwa
posisi itu pada saat saya datang kesini (DBMDSDA), sudah saat berkontrak sudah finishing kalo ga salah, kegiatan itu sudah dilaksanakan di murni (APBD). Di survei pasti di survei emang sistemnya itu. Harus ada juga kordinasi, sehingga sebagian sudah di pindah tinggal yang menunggu dari dinas perhubungan, kalo pemindahan pohon pertamanan urusannya pak,” tutupnya. (Sahat RM)
Leave a Reply