Gempa NTT Bukan Panggung Suara: Ditunggu Empati ANGGOTA DEWAN Saat Tak Ada Pemilu

Nusa Tenggara Timur (NTT), mediaotonomiindonesia.com
Reruntuhan bangunan dan kepulan debu pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam bagi banyaknya warga yang terpaksa bertahan di tenda-tenda darurat. Namun, di tengah duka, ada kekosongan mencolok yang memicu kekecewaan masyarakat: ke mana gerak cepat para wakil rakyat ketika panggung kampanye belum dibuka?
Pemandangan saat ini berbanding terbalik 180 derajat dengan atmosfer menjelang Pemilu Legislatif atau Pilkada. Publik masih ingat betul bagaimana para Caleg begitu rajin menyapa warga, membagi-bagikan paket bantuan bersanding foto diri, serta mengumbar janji advokasi tatkala suara pemilih sedang diperebutkan.

Kini, gempa bumi NTT menjadi ujian moral dan integritas bagi parlemen. Musibah ini membuktikan apakah empati yang pernah diobral dulu merupakan kepedulian yang tulus, atau sekadar transaksi elektoral lima tahunan. Ketiadaan momentum pemilu saat ini justru menjadi panggung sesungguhnya untuk membuktikan bahwa gelar “wakil rakyat” bukan sebatas titel jabatan, melainkan tanggung jawab kemanusiaan.

Aksi Nyata yang Ditunggu Korban Gempa dari Parlemen:

Bantuan Langsung Tanpa Embel-Embel Kampanye : Korban gempa membutuhkan logistik riil, posko medis, dan hunian darurat yang dibiayai dari kerelaan moral serta alokasi dana reses/kedewanan, bersih dari atribut pencitraan figur politik.

Pengawalan Anggaran Darurat Bencana: Menggunakan fungsi pengawasan dan anggaran (budgeting) untuk mendesak percepatan pencairan dana tanggap darurat serta skema rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur NTT.

Hadir dan Mendengar Tanpa Menunggu Suara: Mengunjungi titik-titik terisolasi bukan untuk seremoni dokumentasi, melainkan memastikan birokrasi penanganan pengungsi berjalan tanpa kendala logistik.
Penyintas gempa di pelosok NTT tidak membutuhkan retorika yang baru hadir saat spanduk kampanye ditegakkan.

Yang ditunggu hari ini adalah ketukan nurani dan uluran tangan nyata dari anggota dewan: membuktikan bahwa empati kepada rakyat tetap hidup, meski bilik suara masih jauh di depan mata. (L.Hasibuan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*