Program KaMiSaMa Olah Sampah Ramah Lingkungan, Siap Diterapkan Di Kota Banjar

Banjar, mediaotonomiindonesia.com Wali Kota Banjar Ade Uu Sukaesih didampingi Wakil Wali Kota Banjar Nana Suryana, Sekda Kota Banjar Ade Setiana, serta Kadis Lingkungan Hidup Sri Sobariah beserta staff Dinas LH Kota Banjar, menerima rombongan dari DPP Gerakan Hejo bersama Divisi Hejo Tekno selaku produsen dan inventor incinerator ramah lingkungan StungtaXPindad, bertempat di Ruang Rapat Gunung Babakan Setda Kota Banjar Jl. Siliwangi,  Rabu (15/9/2021).

Ade Uu Sukaesih menurut penuturan Nana Suryana, ”Baru kali ini Ibu Wali memberikan respon positif tentang rencana aplikasi mesin StungtaXPindad yang smokeless (tanpa asap).
Tadi dalam paparannya mesin ini sudah punya SNI, serta lolos uji dari KLHK, memang mendesak diperlukan di Banjar, terutama nantinya tak perlu ada TPA lagi,” ujar Nana sambil menambahkan  “Dengan ini, sampah yang biasanya menjadi masalah, justru bisa menjadi berkah.”

Lebih lanjut menurut Nana Suryana, kehadiran Gerakan Hejo yang diaping langsung oleh Ketua DPP Gerakan Hejo, Eka Santosa, bak gayung bersambut. Karena dalam missi Kota Banjar yang kelima yakni meningkatkan kualitas lingkungan hidup, ”sepertinya ada sinkronisasi dengan kehadiran Gerakan Hejo dan implementasi Hejo Tekno, yaitu menuntaskan sampah di hulu.”

Ditanya tentang  konteks ‘gayung bersambut’ lainnya dalam kaitan 5 butir missi lainya, justru ini akan memperkuat missi lainnya seperti peningkatan SDM, mewujudkan pemerintahan yang bersih dan akuntabel, meningkatkan daya beli masyarakat, mewujudkan kota peduli HAM, dan terakhir mengembangkan potensi dan daya tarik daerah, selain meningkatkan kualitas hidup pada misi nomor lima tadi, ujar Nana.

Sementara itu Betha Kurniawan, CEO Hejo Tekno yang juga Direktur PT. Top Tekno Indo menjelaskan ikhtisar presentasinya menyangkut tawaran mengatasi timbunan sampah untuk contoh data tahun 2020 secara nasional versi Kemen LHK.

”Khusus Kota Banjar ada timbulan sampah 83,74 ton/hari atau 30.566 ton/tahun. Ini sekitar 40%-nya atau 34 ton/hari tidak terkelola,” ujar Betha Kurniawan dengan catatan tambahan – “30% nya atau 10 ton/hari mengandung residu yang non ekonomis, sedangkan sisanya atau sekitar 24 ton bisa dikelola melalui program KaMiSaMa (Kawasan Minimasi Sampah Mandiri) plus TPS 3 R nantinya seperti sekarang berlangsung, di antaranya di Melong, Kota Cimahi.”

Lebih jauh masih kata Betha Kurniawan dihadapan tuan rumah, ia mengusulkan untuk menuntaskan 30% sampah atau setara 10 ton/hari, “dapat menggunakan StungtaXPindad Smokeless incinerator sedikitnya 5 unit, dan masing-masing lahan butuh setidaknya 200 m2. Wujud nyata ini berkonsekwensi tidak perlu lagi ada TPA, atau tidak perlu lagi sampah dibawa-bawa kesana-kemari, yang dapat mengakibatkan banyak hal in efisiensi seperti selama ini.”

Eka Santosa mengingatkan kembali, betapa penting persoalan sampah harus ada pemecahan yang praktis namun efektip. “Penerapan KaMiSaMa yang menjadikan Ibu Walikota Banjar dan stafnya tertarik, sama sekali tak memakai dana APBD apalagi APBN. Yang dibutuhkan hanya semacam regulasi baru agar, penanganannya semakin ekonomis dan akuntabel, serta transparan nantinya.”

Diakui oleh Eka Santosa, untuk mewujudkan penanganan sampah ala KaMiSaMa dibutuhkan banyak perubahan pola pikir dan tingkah laku kita dan masyarakat.
Contohnya, untuk setiap penerapan StungtaXPindad di sebuah keluarahan yang ditangani 20 petugas, misalnya. Nanti, semua harus digaji minimal sesuai UMR, plus tunjangan lainnya.

Selanjutnya kata Eka, setiap rumah tangga harus memilah sedikitnya dua jenis sampah, yaitu organik dan non organik.
Dalam pertemuan tadi dengan Walikota kata Eka, diluar dugaan Ibu Walikota sangat antusias, dan dalam waktu dekat akan berkunjung ke Pindad dan daerah TPS 3 R di Melong Kota Cimahi. (Yudhi’s)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*